KPPU Berikan Kuliah Umum di Universitas Batam

Kuliah Umum Uniba 22 Sept 2016

Batam – Sebagai salah satu upaya internalisasi nilai-nilai persaingan usaha bagi kalangan mahasiswa, Komisioner KPPU, Sukarmi dan Kepala KPPU Kantor Perwakilan Daerah Batam, Lukman Sungkar memberikan kuliah umum dihadapan 120 orang mahasiswa Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi Universitas Batam bertempat di Kampus Universitas Batam, Kota Batam pada Kamis malam (22/9/2016).

Kegiatan dibuka dengan sambutan dari Wakil Rektor I Bidang Akademik Universitas Batam, Sayid Fadil. Dalam pidatonya, Warek I Uniba sangat antusias dengan kuliah umum dari KPPU. Menurutnya kegiatan ini merupakan langkah yang sangat baik dan perlu diapresiasi. Ia juga berharap kedepan dapat melakukan kerjasama lebih baik dengan KPPU.

”Kami sangat senang KPPU telah bersedia datang ke kampus ini dan memberikan kuliah umum. Kepada para mahasiswa, saya sampaikan bahwa ilmu persaingan usaha ini sangat penting, terlebih Batam merupakan kota bisnis dan berbatasan langsung dengan negara tetangga”, ujar Sayid.

Dalam pemaparannya, Lukman menyampaikan bahwa KPPU merupakan lembaga independen yang dibentuk untuk mengawasi pelaksanaan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999. Dalam melaksanakan tugas dan kewenangannya, KPPU tidak dapat diinterfensi oleh siapapun. ”KPPU ini memiliki kewenangan yang luar biasa, bisa melakukan penyelidikan seperti polisi, berfungsi sebagai investigator dalam persidangan seperti jaksa, dan juga berfungsi sebagai hakim. Sehingga ada yang menyebut bahwa KPPU merupakan lembaga yang superbody”, jelas Lukman.

Komisioner KPPU, Sukarmi menjelaskan bahwa persaingan usaha sehat sangat dibutuhkan terutama dalam pembangunan. Tindakan anti persaingan yang dilakuan oleh sekelompok pelaku usaha tertentu menyebabkan tingginya harga di pasaran dan tidak adanya inovasi sehingga sangat merugikan konsumen. Konsumen harus membayar mahal dengan kualitas produk yang biasa saja dan semua pelaku usaha menawarkan kualitas produk yang sama dengan harga yang sama. Hal ini mesti diatasi dengan mencipatakan iklim persaingan usaha yang sehat. “Ketika ada persaingan, maka ada inovasi. Bagi konsumen ini diuntungkan. Ada banyak pilihan, mau pilih harga murah dengan kualitas produk yang standar, atau mau pilih yang agak mahal dengan kualitas yang bagus. Konsumen bisa tentukan sendiri”, ujar Sukarmi.

Ia mencontohkan bahwa KPPU tengah menangani perkara dugaan kartel yang dilakukan oleh dua produsen sepeda motor terbesar di Indonesia, yaitu Honda dan Yamaha pada industri motor skutik. “Para mahasiswa pasti banyak yang pakai Mio, kalau Yamaha, kalo Honda, ada Beat. KPPU sedang menangani dugaan kartel oleh kedua produsen matik tersebut. Coba perhatikan harga keduanya gak jauh-jauh bedakan ? Jika harga yang stau naik yang satunya lagi juga ikut naik”, terang Sukarmi.

Sukarmi juga menjelaskan bahwa KPPU terkadang mengalami kesulitan dalam mengumpulkan alat bukti terjadinya pelanggaran hukum persaingan usaha dikarenakan terbatasnya kewenangan yang dimiliki. Sehingga penambahan kewenangan KPPU terutama dalam melakukan penggeladahan dan penyitaan sangat diperlukan.

Para mahasiswa tampak antusias mendengarkan penjelasan dari para narasumber dan tampak mulai menyadari betapa besarnya bahaya kartel bagi kehidupan masyarakat.